Perempuan Berdaya Melalui Pola Tanam Modern Vertikultur, Ubah Pekarangan Sempit Jadi Sumber Ketahanan Pangan

YOGYAKARTA – Ancaman krisis pangan yang kian nyata mendorong sekelompok ibu rumah tangga di Yogyakarta bergerak lebih awal. Alih-alih menunggu, kelompok dasawisma Srikandi memilih memanfaatkan lahan pekarangan yang sempit untuk bertanam sayur secara vertikal, sebuah langkah kecil yang diyakini bisa berdampak besar bagi kemandirian pangan keluarga.

Langkah tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat bertajuk “Perempuan Berdaya Melalui Pola Tanam Modern Vertikultur” yang digagas oleh tim dosen dan mahasiswa Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (UNJAYA), di bawah skema Diktisaintek Berdampak. Program ini diketuai oleh Niken Wahyuning Retno Mumpuni, S.H., M.H, bersama anggota tim yang terdiri dari Krisna Mutiara Wati, S.E., M.Sc, Arini Mifti Jayanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, serta beberapa mahasiswa Unjaya, Amelia Putri Apreria, Fany Adiva Nuari, dan Mustika Arum Diah Hartami.

Kegiatan digelar dalam pertemuan penyampaian materi pemberdayaan perempuan kepada kelompok dasawisma, mencakup tiga topik utama: penguatan keyakinan diri (self-efficacy) ibu-ibu PKK, teknik vertikultur pipa paralon beserta penyusunan bisnis plan, hingga agribisnis sayuran di lahan pekarangan.

Niken Wahyuning Retno Mumpuni selaku ketua tim menjelaskan bahwa program ini digagas untuk membangun kesadaran lingkungan sekaligus ketahanan pangan keluarga melalui inovasi pertanian modern berbasis vertikultur. Menurutnya, metode ini dipilih karena sesuai dengan kondisi pekarangan yang sempit dan padat penduduk, sekaligus dapat menjadi sarana pemberdayaan perempuan di tingkat rumah tangga maupun komunitas.

“Perempuan hebat, lingkungan sehat, pangan kuat,” demikian semboyan yang diusung tim dalam program ini, mencerminkan harapan agar ibu-ibu dasawisma tidak hanya lebih mandiri secara pangan, tetapi juga lebih percaya diri dan produktif secara ekonomi.

Penguatan Keyakinan Diri (self-efficacy) Ibu-Ibu PKK

Dalam materi pertama, dijelaskan bahwa banyak ibu sebenarnya memiliki kemampuan untuk mandiri pangan, namun sering terkendala rasa kurang yakin pada diri sendiri. Berdasarkan konsep self-efficacy dari Albert Bandura, keyakinan itu dibangun dari empat sumber: pengalaman keberhasilan, melihat proses keberhasilan orang lain, dukungan serta pujian dari lingkungan sekitar, dan kondisi fisik maupun emosi yang sehat.

“Ubah pikiran, ubah hidupmu,” demikian pesan yang mengemuka dalam pertemuan tersebut, mengajak para ibu untuk lebih menghargai peran mereka sehari-hari mengurus rumah, anak, dan keluarga yang selama ini kerap dianggap biasa saja.

Sejumlah penyebab ibu-ibu kurang percaya diri turut diidentifikasi, mulai dari pengalaman gagal di masa lalu, kebiasaan dibanding-bandingkan, komentar negatif dari lingkungan, hingga kecenderungan hanya melihat kekurangan diri sendiri dan melihat keberhasilan orang lain tanpa melihat proses yang ada didalamnya. Sebagai solusinya, peserta diajak menerapkan strategi sederhana yang bisa dilakukan setiap hari, seperti mencatat satu keberhasilan kecil, memulai dari tugas yang mudah sebelum meningkat ke yang lebih menantang, mengubah pola self-talk negatif menjadi lebih positif, serta mencari sesama ibu sebagai role model.

Keyakinan diri ini kemudian dikaitkan dengan berbagai peran ibu, mulai dari mengelola keluarga, mengembangkan keterampilan baru, berkontribusi aktif di komunitas, menjaga kesehatan, merintis usaha, hingga menjaga lingkungan. Salah satu contoh konkret yang diangkat adalah keberanian mengikuti pelatihan vertikultur meski belum pernah menanam dengan cara tersebut sebelumnya.

Vertikultur Pipa, Solusi untuk Pekarangan Sempit

Materi kedua mengupas teknik vertikultur pipa, yakni cara menanam secara vertikal menggunakan media pipa paralon. Teknik ini dinilai cocok diterapkan di pekarangan sempit karena hemat lahan dan air, mudah dirawat, tampilannya rapi, serta memudahkan proses panen. Beberapa jenis sayuran yang direkomendasikan antara lain sawi, kangkung, selada, bayam, dan pakcoy.

Agar hasil tanam bisa memberi nilai ekonomi, peserta juga dibekali cara menyusun bisnis plan sederhana. Tanpa perencanaan, usaha dinilai rawan berjalan tanpa arah, mulai dari modal yang tidak terukur hingga harga jual yang asal-asalan. Kerangka bisnis plan yang diperkenalkan meliputi profil usaha, jenis produk, target pasar, operasional tanam-panen, strategi pemasaran melalui grup WhatsApp maupun secara verbal dari mulut ke mulut, pengelolaan keuangan kelompok, hingga evaluasi rutin setiap bulan.

Sebagai gambaran, satu rak vertikultur berkapasitas 10 lubang tanam membutuhkan modal awal sekitar Rp220 ribu untuk pipa, bibit, dan nutrisi. Dengan asumsi hasil panen dijual seharga Rp5.000 per ikat, modal tersebut diperkirakan bisa kembali setelah sekitar lima kali musim panen. Peserta juga diperkenalkan dengan perhitungan harga jual, keuntungan, hingga titik impas usaha atau Break Even Point (BEP) agar usaha kelompok dapat dievaluasi secara terukur setiap bulan.

Manfaatkan Pekarangan, Rintis Agribisnis Rumahan

Materi ketiga menekankan bahwa kebutuhan sayuran, termasuk sayuran organik, terus meningkat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pola makan sehat. Bertani tidak harus di lahan luas tetapi bisa menggunakan wadah bekas seperti galon maupun polibag di pekarangan rumah bisa dimanfaatkan.

Peserta diajak mengenali kondisi halaman rumah masing-masing, mulai dari arah angin dan cahaya matahari hingga sistem penyiraman dan alat berkebun dasar, sebelum menentukan sistem tanam yang paling sesuai. Bahan-bahan di sekitar rumah tangga pun didorong untuk dimanfaatkan kembali, misalnya biji cabai yang hampir busuk untuk dijadikan bibit, sampah organik untuk pupuk, hingga cangkang telur yang dicampur Yakult atau air kelapa sebagai nutrisi tambahan tanaman.

Seledri direkomendasikan sebagai salah satu tanaman unggulan karena mudah dirawat, cocok untuk vertikultur, dan bisa dipanen berkali-kali setelah daunnya dipetik. Di akhir sesi, peserta juga mendapat sejumlah rekomendasi tindak lanjut, di antaranya mempelajari analisis Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Peluang), dan Threat (Ancaman) dalam suatu proyek atau bisnis (SWOT), menanam seledri dan kemangi, mengembangkan produk olahan hasil tanam dengan label khas dasawisma Srikandi, hingga membuat produk teh stevia sebagai peluang usaha baru.

Melalui rangkaian materi ini, Kelompok Dasawisma Srikandi diharapkan tidak hanya mampu menyediakan sayuran segar untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari, tetapi juga berkembang menjadi kelompok yang mandiri dalam ketahanan pangan sekaligus produktif secara ekonomi, sejalan dengan semangat pelestarian budaya pemanfaatan pekarangan di Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa.

Program pemberdayaan ini merupakan bagian dari komitmen UNJAYA melalui skema Diktisaintek Berdampak untuk mendorong kolaborasi antara kampus dan masyarakat, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan berbasis rumah tangga. Tim menegaskan, semangat program ini sejalan dengan tagline yang mereka usung: “Perempuan Hebat, Lingkungan Sehat, Pangan Kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *