
Bantul – Dosen Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (Unjaya) dan Universitas Ahmad Dahlan melaksanakan kegiatan “Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana melalui Disaster Management Continuum Model Pada Sekolah Daerah Istimewa Yogyakarta”.

Kegiatan ini merupakan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.
Program Penelitian Fundamental ini merupakan kolaborasi antara dosen Unjaya yaitu Muhammad Erwan Syah, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (S-1 Prodi Psikologi) dan Novita Nirmalasari, S.Kep.,Ns., M.Kep (S-1 Prodi Keperawatan) dengan dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yaitu Dr. Nurul Hidayah, S.Psi., M.Si., Psikolog (Fakultas Psikologi).

Muhammad Erwan Syah menuturkan, Kegiatan ini dilakukan di Sekolah Dasar Inklusi Kabupaten Bantul. Tujuan kegiatan ini adalah mengidentifikasi kondisi dan tingkat kesiapsiagaan psikologis peserta didik di Sekolah Dasar Inklusi daerah rawan bencana Kabupaten Bantul sebelum penerapan intervensi. Selain itu, menguji efektivitas model Disaster Psychology Management berbasis Logoanalisis dalam meningkatkan kesiapsiagaan psikologis siswa, yang meliputi faktor psikologis dan dampak intervensi.

Model ini memandang penanggulangan bencana sebagai suatu proses yang berkesinambungan yang meliputi tahapan mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan. Penelitian dilakukan pada beberapa sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas yang berada di wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi, seperti ancaman gempa bumi, erupsi gunung api, banjir, dan tanah longsor. Analisis implementasi DMCM menunjukkan bahwa seluruh tahapan dalam model telah dilaksanakan, namun dengan tingkat optimalisasi yang berbeda. Pada tahap mitigasi, sekolah telah melakukan identifikasi risiko, penyusunan peta rawan bencana, serta penguatan infrastruktur dasar. Pada tahap kesiapsiagaan, sekolah telah membentuk Tim Siaga Bencana Sekolah, menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) evakuasi, melaksanakan pelatihan kebencanaan, serta melakukan simulasi secara berkala meskipun intensitasnya masih belum merata. Tahap respons menunjukkan koordinasi yang cukup baik antara sekolah dengan BPBD, Puskesmas, PMI, dan aparat pemerintah setempat. Berdasarkan analisis kuantitatif dan kualitatif, implementasi Disaster Management Continuum Model memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesiapsiagaan sekolah. Terjadi peningkatan pada aspek pengetahuan kebencanaan, kemampuan evakuasi, koordinasi antarpemangku kepentingan, serta budaya sadar risiko bencana di lingkungan sekolah. Sekolah yang menerapkan seluruh tahapan DMCM secara berkesinambungan menunjukkan tingkat kesiapsiagaan yang lebih tinggi dibandingkan sekolah yang hanya berfokus pada kegiatan mitigasi fisik. Integrasi antara mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan mampu membentuk sistem manajemen bencana sekolah yang lebih adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa Disaster Management Continuum Model merupakan pendekatan yang efektif dalam memperkuat ketangguhan siswa di sekolah terhadap berbagai ancaman bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun demikian, penguatan pada aspek pemulihan pascabencana, dukungan psikososial, peningkatan kapasitas guru, serta evaluasi program secara berkala masih diperlukan agar implementasi model dapat berjalan secara optimal.

Melalui penelitian mengenai Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana melalui Disaster Management Continuum Model pada Sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta, diharapkan lahir model kesiapsiagaan yang tidak hanya berorientasi pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga menekankan pentingnya upaya pencegahan, pengurangan risiko, kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan secara berkelanjutan. Sekolah sebagai lingkungan belajar memiliki peran strategis dalam membangun budaya sadar bencana sejak dini sehingga seluruh warga sekolah mampu bertindak cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika menghadapi situasi darurat.

Keberhasilan upaya mitigasi bencana membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, satuan pendidikan, guru, peserta didik, orang tua, hingga masyarakat. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan setiap sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta mampu menjadi sekolah yang tangguh terhadap bencana serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan sekolah dan mendukung terwujudnya generasi yang lebih siap menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang.